JAKARTA - Pergerakan harga bahan kebutuhan pokok di Jawa Timur kembali menunjukkan dinamika yang patut dicermati masyarakat.
Fluktuasi harga sembako terjadi hampir setiap hari dan berdampak langsung pada pola belanja rumah tangga. Pada Rabu, 11 Februari 2026, sejumlah komoditas mengalami perubahan harga dengan arah yang beragam, mulai dari penurunan daging sapi hingga kenaikan cabai dan produk ayam.
Memantau perkembangan harga sembako bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi langkah penting bagi masyarakat untuk mengelola pengeluaran agar tetap terkendali. Di tengah kondisi harga yang tidak selalu stabil, informasi harian mengenai sembako dapat membantu konsumen menyusun anggaran belanja dengan lebih bijak.
Pergerakan Harga Sembako di Jawa Timur Hari Ini
Berdasarkan pemantauan terbaru, harga sembako di Jawa Timur hari ini menunjukkan variasi perubahan. Beberapa komoditas tercatat mengalami penurunan harga, sementara lainnya justru mengalami kenaikan. Di sisi lain, sejumlah bahan pokok relatif stabil tanpa perubahan berarti.
Daging sapi paha belakang mengalami penurunan harga sebesar Rp 238 atau 0,20 persen. Selain itu, telur ayam kampung turun Rp 680 atau 1,46 persen, serta bawang putih turun Rp 174 atau 0,54 persen. Penurunan ini memberikan sedikit kelonggaran bagi masyarakat, khususnya yang menjadikan komoditas tersebut sebagai kebutuhan rutin.
Namun, di saat yang sama, beberapa bahan pangan justru mengalami kenaikan. Daging ayam kampung naik Rp 737 atau 1,06 persen, disusul daging ayam ras yang naik Rp 338 atau 1,06 persen. Telur ayam ras turut mengalami kenaikan sebesar Rp 134 atau 0,46 persen. Sementara itu, komoditas cabai kembali menunjukkan tren naik dengan kenaikan pada cabai merah keriting, cabai merah besar, dan cabai rawit merah.
Daftar Harga Lengkap Sembako Jawa Timur 11 Februari 2026
Mengacu pada Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, berikut harga rata-rata sembako di wilayah Jawa Timur per Rabu, 11 Februari 2026:
Beras premium Rp 14.817/kg, beras medium Rp 12.819/kg, gula kristal putih Rp 16.500/kg. Minyak goreng curah Rp 18.593/kg, minyak goreng kemasan premium Rp 20.293/liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp 17.474/liter, dan Minyakita Rp 16.186/liter.
Daging sapi paha belakang Rp 119.561/kg, daging ayam ras Rp 38.720/kg, daging ayam kampung Rp 70.037/kg. Telur ayam ras Rp 29.011/kg, telur ayam kampung Rp 45.786/kg.
Susu kental manis merek Bendera Rp 12.510 per 370 gram, Indomilk Rp 12.487 per 370 gram. Susu bubuk Bendera Rp 42.201 per 400 gram dan Indomilk Rp 41.124 per 400 gram.
Garam bata Rp 1.753, garam halus Rp 9.163/kg. Cabai merah keriting Rp 31.915/kg, cabai merah besar Rp 29.721/kg, cabai rawit merah Rp 82.707/kg. Bawang merah Rp 35.404/kg, bawang putih Rp 32.233/kg, serta gas elpiji Rp 19.769.
Komoditas Naik dan Turun, Konsumen Perlu Cermat
Dari data tersebut terlihat bahwa komoditas pangan hewani dan hortikultura masih menjadi penyumbang fluktuasi terbesar. Kenaikan harga cabai, khususnya cabai rawit merah yang menembus Rp 82.707/kg, berpotensi memengaruhi pengeluaran dapur, mengingat cabai merupakan bahan penting dalam masakan sehari-hari masyarakat Jawa Timur.
Sebaliknya, turunnya harga daging sapi dan beberapa komoditas lain menjadi angin segar, meskipun penurunannya relatif kecil. Kondisi ini menuntut konsumen untuk lebih selektif dalam mengatur menu harian, menyesuaikan dengan harga pasar yang berlaku.
Harga sembako juga dapat berbeda di setiap pasar, tergantung lokasi, distribusi, dan ketersediaan barang. Oleh karena itu, harga yang tercantum merupakan harga rata-rata di tingkat provinsi Jawa Timur.
Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Sembako
Perubahan harga sembako tidak terjadi tanpa sebab. Berbagai faktor memengaruhi naik dan turunnya harga bahan pokok. Salah satu faktor utama adalah keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga cenderung naik. Sebaliknya, jika pasokan melimpah, harga bisa turun.
Cuaca juga memiliki peran penting, terutama untuk komoditas pertanian. Cuaca ekstrem, bencana alam, atau perubahan musim dapat mengganggu produksi dan distribusi, sehingga memicu kelangkaan pasokan dan kenaikan harga.
Selain itu, kebijakan pemerintah seperti impor, subsidi, pajak, dan regulasi lainnya turut memengaruhi harga sembako. Perubahan biaya produksi, termasuk harga pupuk, bahan bakar, serta upah tenaga kerja, juga berdampak pada harga jual di pasaran.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah nilai tukar mata uang, terutama untuk komoditas yang bergantung pada impor. Depresiasi nilai tukar dapat membuat harga barang impor lebih mahal. Inflasi serta kondisi ekonomi yang tidak stabil juga berkontribusi terhadap naiknya harga bahan pokok.
Masalah rantai distribusi seperti kemacetan, gangguan logistik, atau keterlambatan pengiriman turut memengaruhi ketersediaan barang di pasar. Karena itulah, harga sembako bersifat dinamis dan memerlukan pengawasan serta kebijakan yang tepat agar stabilitas pasar tetap terjaga.
Dengan memahami pergerakan harga dan faktor penyebabnya, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi fluktuasi harga sembako dan menyesuaikan pola konsumsi secara bijak.