The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%, Dow Jones Anjlok 631 Poin

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%, Dow Jones Anjlok 631 Poin

BICARAKEUANGAN.COM — Dow Jones Industrial Average merosot 631,21 poin atau 1,21% ke level 51.461,90 setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Kenaikan pertama dalam tiga tahun itu disertai sinyal bahwa pengetatan lanjutan masih mungkin dilakukan tahun ini. S&P 500 terkoreksi 0,45% ke 7.551,81, sedangkan Nasdaq Composite nyaris flat di 25.978,42.

Ketiga indeks utama Wall Street sempat bergerak di zona positif sebelum pengumuman. Pergerakan berbalik ke area negatif setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataan soal risiko inflasi.

Dow Jones Pimpin Koreksi, Nasdaq Hampir Tak Bergerak

Dow Jones mencatat penurunan paling dalam di antara tiga indeks utama. S&P 500 turun 0,45%, sementara Nasdaq Composite hanya melemah 0,01%.

  • Dow Jones Industrial Average: turun 631,21 poin (-1,21%) ke 51.461,90
  • S&P 500: turun 0,45% ke 7.551,81
  • Nasdaq Composite: turun 0,01% ke 25.978,42

Pasar awalnya merespons kenaikan yang sudah diperkirakan itu dengan tenang. Tekanan muncul ketika Warsh berulang kali menekankan bahwa inflasi belum menunjukkan perbaikan berarti.

Alasan The Fed: Inflasi Masih Terlalu Tinggi

Warsh menyatakan data inflasi sepanjang musim panas tidak cukup meyakinkan bahwa tren dasarnya membaik. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa The Fed belum puas dengan laju penurunan harga.

"Fakta sederhananya adalah inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama," kata Warsh, dikutip dari CNBC.

"Data inflasi pada musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti," ujarnya.

The Fed juga membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini. Sinyal hawkish itu menjadi pemicu utama aksi jual di pasar saham AS.

Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5%

Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali menembus level 5% setelah pernyataan Warsh. Angka itu menjadi level psikologis penting yang memicu kekhawatiran kebijakan The Fed belum cukup meredam inflasi.

Art Hogan, Chief Market Strategist B. Riley Wealth, menilai keputusan The Fed masih sesuai ekspektasi pasar. Namun, komentar Warsh yang lebih hawkish berpotensi membuat yield tinggi bertahan lebih lama.

"Pasar saat ini mengambil petunjuk dari yield US Treasury 10 tahun yang kembali naik di atas 5%, yang merupakan level psikologis yang sangat penting," kata Hogan.

Menurut Hogan, kenaikan yield dan potensi inflasi bertahan di level tinggi dapat menjadi hambatan bagi pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Saham Perbankan dan Energi Jadi Korban Pertama

Sektor perbankan menjadi salah satu yang paling tertekan setelah keputusan The Fed. Bank of America dan Wells Fargo masing-masing turun hampir 3% karena investor mencermati dampak suku bunga terhadap pertumbuhan kredit dan perekonomian.

American Express dan Goldman Sachs melemah hampir 4%. Kekhawatiran utama pelaku pasar adalah potensi perlambatan penyaluran kredit jika suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Tekanan terhadap perekonomian AS turut datang dari sisi energi. Harga diesel AS mencapai US$ 6 per galon pada Jumat untuk pertama kalinya, di tengah kendala pasokan akibat perang di Ukraina dan Iran.

Harga minyak mentah juga masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Kombinasi biaya energi tinggi dan suku bunga naik memperbesar risiko stagflasi di ekonomi terbesar dunia itu.

Bagi investor Indonesia, kenaikan suku bunga The Fed berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah. Yield US Treasury yang tinggi juga bisa memicu arus modal keluar dari pasar emerging market, termasuk IHSG.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index