Dokter Anak Jakarta Jelaskan Beda Infeksi dan Alergi pada Anak, dari Gejala hingga Penanganan

Dokter Anak Jakarta Jelaskan Beda Infeksi dan Alergi pada Anak, dari Gejala hingga Penanganan

JAKARTA — Infeksi dan alergi sama-sama menyerang anak-anak, tetapi keduanya punya penyebab dan cara penanganan yang berbeda. Orang tua kerap keliru membedakan keduanya karena gejala yang muncul mirip. Dokter spesialis anak dr. Vini Jamarin, Sp.A. menjelaskan perbedaan tersebut agar penanganan yang diberikan tidak salah.

Infeksi pada anak umumnya disebabkan virus, sedangkan alergi berkaitan dengan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu. Salah memberi penanganan bisa berdampak pada kesehatan anak di masa depan.

Apa Penyebab Infeksi Virus pada Anak?

Common cold atau pilek merupakan infeksi virus ringan pada saluran pernapasan atas yang sering menyerang anak. Anak yang terinfeksi biasanya jadi rewel, enggan beraktivitas, atau mengalami masalah makan.

Penyebab paling umum infeksi ini adalah rhinovirus. Penyebab yang cukup umum meliputi coronavirus, influenza virus, parainfluenza virus, dan respiratory syncytial virus. Sementara adenovirus dan enterovirus tergolong penyebab yang jarang.

Gejala umum infeksi virus pada anak adalah sakit tenggorokan, pilek, batuk, dan demam. Pada anak yang masih kecil, gejala bisa muncul kurang dari satu minggu hingga lebih dari dua minggu.

Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Ada alarm yang perlu diperhatikan saat anak terkena infeksi. Orang tua diminta waspada bila anak menolak makan dan minum, atau napasnya terasa berat dan cepat.

Untuk mengatasi infeksi di rumah, pemberian sedikit madu dapat meredakan tenggorokan dan mengurangi frekuensi batuk di malam hari. Membersihkan hidung dengan spuit tanpa jarum dan cairan salin juga membantu mengeluarkan lendir serta kotoran.

Tindakan itu tergolong aman, namun sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter. Berjemur di bawah sinar matahari pagi juga bisa meredakan hidung tersumbat dan mengencerkan dahak.

Bagaimana Mencegah Infeksi pada Anak?

Pencegahan bisa dimulai dari rumah. Orang tua dianjurkan memberikan anak makanan bergizi seimbang dan melengkapi imunisasi sesuai usia.

  • Membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan sebelum dan setelah bermain serta makan
  • Mengajarkan etika batuk yang benar, yakni menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
  • Menjauhkan anak dari paparan asap rokok

Mengapa Alergi pada Anak Berubah Seiring Usia?

Sistem kekebalan tubuh terkait alergi mengalami transisi melalui empat kondisi utama seiring waktu, yang disebut allergic march. Pada masa bayi, eksim atau dermatitis atopik sering muncul lebih dulu dengan tanda kulit kering, kemerahan, dan gatal.

Memasuki masa kanak-kanak awal, sensitivitas terhadap makanan umum terjadi, misalnya alergi susu, telur, atau kacang-kacangan. Pada usia sekolah, peradangan saluran napas kronis seperti asma dan kondisi mengi mencapai puncaknya.

Di masa remaja hingga dewasa, rinitis lebih sering terjadi. Rinitis adalah peradangan pada lapisan rongga hidung akibat alergen yang terhirup.

Gejala Alergi yang Khas

Alergi pada anak ditandai sejumlah gejala khas, seperti produksi air mata berlebih, bersin, hidung berair, gatal dan kemerahan di kulit, batuk, serta pembengkakan di bawah lapisan kulit.

Untuk mencegah dan menangani alergi, orang tua dapat mencuci perlengkapan tidur secara rutin dan membersihkan rumah secara berkala agar terhindar dari debu. Nebulizer digunakan untuk mengatasi alergi berat dan gangguan pernapasan.

Penjelasan ini menegaskan bahwa infeksi dan alergi memerlukan pendekatan berbeda. Orang tua yang mengenali gejalanya lebih cepat dapat menentukan langkah penanganan yang tepat bagi anak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index