BANDAR LAMPUNG — Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyebut hilirisasi sebagai kunci agar Lampung tidak lagi bergantung pada intervensi tata niaga komoditas mentah. Dari total komoditas lokal, baru sekitar 30 persen yang saat ini diolah di dalam daerah.
Angka itu menjadi perhatian utama menjelang target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Selama ini, kata Gubernur, lonjakan ekonomi Lampung lebih banyak ditopang kenaikan harga komoditas mentah ketimbang nilai tambah industri.
Lampung Penyumbang Pangan Nasional, tapi Petani Belum Sejahtera Optimal
Dalam paparannya, Gubernur menyoroti posisi Lampung sebagai lumbung pangan strategis nasional. Produksi gabah/padi Lampung menembus 3,5 juta ton, dengan separuhnya disalurkan untuk kebutuhan pangan lintas provinsi.
Lampung juga menopang industri unggas dan telur wilayah DKI Jakarta serta Pulau Jawa dari surplus jagung. Daerah ini menyuplai 70 persen tapioka nasional, menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia, sekaligus mengekspor 60 persen kopi nasional.
Lampung pula yang menjadi produsen lada terbesar dan penghasil gula peringkat kedua. Namun, selama puluhan tahun limpahan kekayaan agraris itu belum dinikmati optimal oleh petani akibat harga komoditas mentah yang berfluktuasi.
Pertumbuhan Lampung Nomor Dua Se-Sumatera, Ditopang Harga Komoditas
Perubahan fundamental terjadi lewat intervensi perlindungan komoditas di era Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan itu mengungkit pendapatan petani dan mendongkrak laju ekonomi daerah.
"Selama 15 tahun, Provinsi Lampung ini pertumbuhan ekonominya selalu di bawah rata-rata nasional. 2026 kemarin kita nomor dua tertinggi se-Sumatera, jadi setelah Kepri, Lampung, karena harga komoditas," ujar Gubernur Mirza.
Geliat ekonomi perdesaan tercermin dari likuiditas perbankan. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh hampir 7 persen secara tahunan (year-on-year).
Hilirisasi Dua Jalur: Sentra Perdesaan hingga Kawasan Industri
Gubernur menegaskan keberlanjutan ekspansi ekonomi tidak bisa terus bersandar pada intervensi kebijakan tata niaga. Hilirisasi menjadi prioritas utama daerah, sejalan dengan mandat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
"Hari ini kami tumbuh karena didukung oleh kebijakannya Presiden, dipaksa naik harganya. Tapi kedepan untuk mencapai 8 persen tidak bisa hanya dengan regulasi. Harus ada kolaborasi, harus ada kreativitas, harus ada inovasi, dan tentunya yang paling penting sesuai dengan RPJMN kita harus melakukan hilirisasi. Kami melihat baru 30 persen komoditas kami yang dihilirisasi di Lampung," tuturnya.
Strategi hilirisasi dirancang dalam dua pendekatan. Pertama, skala sentra perdesaan lewat industri pakan ayam lokal serta penanganan pascapanen kopi dan kakao. Kedua, hilirisasi skala lanjut (advance downstreaming) pada kawasan industri manufaktur.
Dorongan nilai tambah berjalan beriringan dengan lonjakan adopsi teknologi pertanian. Belanja alat mesin pertanian (alsintan) di Lampung naik hampir 200 persen, sementara armada logistik truk bertambah 50 persen.
Wisatawan Domestik Melonjak 60 Persen, 71 Persen Penduduk Usia Produktif
Potensi akselerasi juga datang dari diversifikasi sektor energi baru terbarukan (sustainable energy). Sektor pariwisata mencatat lompatan arus wisatawan domestik hingga 60 persen, dari 17 juta pelancong pada 2024 menjadi 27 juta kunjungan pada 2025.
Struktur demografi ikut menopang. Sebanyak 71 persen dari populasi Lampung tergolong angkatan kerja produktif.
Gubernur Mirza mengajak otoritas moneter pusat dan perbankan mengawal deregulasi untuk menuntaskan potensi sumbatan alur perizinan investasi (bottlenecking).
"Saya yakin salah satu fondasi kemajuan Indonesia itu syaratnya cuma satu, ketika daerah-daerahnya menjadi kuat. Fondasi utama pertumbuhan ekonomi kedepan ketika pertumbuhan di daerah itu akan kuat. Ketika Lampung tumbuh, Lampung maju, ekonomi masyarakat makmur, cita-cita presiden kita akan tercapai, Indonesia akan jauh lebih makmur ke depan," pungkasnya.
BI Catat Ekonomi Lampung Tumbuh 5,29 Persen pada Triwulan II-2026
Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Lampung yang menembus 5,29 persen pada triwulan II-2026. Capaian itu menempatkan Lampung sebagai daerah dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Pulau Sumatera.
Menurut Thomas, laju pertumbuhan yang ditopang sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian tersebut merupakan buah kerja keras pimpinan daerah bersama seluruh pemangku kepentingan.
Ia mengingatkan tantangan utama ke depan adalah memastikan pertumbuhan menghadirkan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan masyarakat lewat hilirisasi dan masuknya investasi.